Perlu Sikap Bijak dalam Mengelola Keuangan

(Seri: Melek Keuangan #2)

Di kutip dari banyak sumber, tulisan saya ini merupakan ajakan kepada Anda agar bijak dalam mengelola keuangan.

Sebelum lebih jauh Anda membaca tulisan ini, saya akan menggambarkan bahwa ada dua fenomena yang ingin saya sampaikan kepada Anda terkait model kelompok orang.

Pertama, ada kelompok orang yang sangat aktif dalam mengumpulkan uang. Ia sangat antusias dan menganggap bahwa sangat berartinya nilai uang yang dimiliki. Bahkan, karakter orang dalam kelompok ini sangat doyan berhutang sana sini.

Kedua, ada juga kelompok orang yang hanya mengoptimalkan asset yang Ia miliki dan sangat menghindari utang.

Baik, sebelum Anda menerawang lebih jauh terkait fenomena ini saya akan menjelaskan ada apa dengan dua kelompok orang tersebut.

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa tidak semua utang itu jelek. Yang jelek mungkin yang tidak melihat kadar utang tersebut, apalagi tidak memikirkan kemampuan dan tidak tahu cara mengelolanya.

Nah, inilah yang menurut saya penting untuk Anda ketahui. Karena, banyak orang yang terjebak dalam situasi yang sulit. Misalnya, saat kebutuhan naik, Ia lupa meningkatkan asset yang dimiliki, justru utangnya yang naik untuk kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya konsumtif.

Sekali lagi, dalam konsep keuangan, utang bukanlah hal tabu. Hanya saja, kita perlu mengukur mana saja utang yang perlu kita gunakan. Misalnya, untuk kebutuhan perumahan, tentu saja kita lebih memilih mengandalkan utang jika penghasilan bulanan kita terbatas.

Lebih lanjut saya jelaskan bahwa pengelolaan keuangan lebih sering kacau ketika Anda tidak dapat mengontrol gaya hidup. Loss control yang mengakibat beban meningkat sehingga kondisi keuangan bisa kolaps.

Seorang pakar perbankan mengatakan bahwa untuk menghindari persoalan di atas maka perlu ada pengeluaran atau spare yang disiapkan untuk memperkuat aset. Misalnya, menyisihkan penghasilan untuk tabungan, membeli produk asuransi, investasi, atau lainnya.

Fenomena saat ini, pilihan untuk kebutuhan tabungan atau investasi cukup beragam. Kita dapat memilih yang sesuai dengan target dan tujuan keuangan kita.

Menurut seorang konsultan keuangan dan psikologi Tessie Setiabudi menuturkan terdapat tiga aspek dalam mengelola keuangan khususnya keuangan bulanan. Pertama, memerhatikan kebutuhan utama yang mencakup kebutuhan belanja, pendidikan anak, pembayaran rekening, hingga cicilan.

Kedua, alokasi untuk rekreasi dan hiburan. Sesibuk apa pun kita dalam bekerja, sesekali butuh waktu untuk santai bersama keluarga.

Ketiga, aspek yang mencakup dana khusus atau impian yang sifatnya jangka panjang.

Mengoptimalkan pengeluaran, katanya, merupakan pendekatan yang bijak dalam mengelola finansial. Melalui upaya berhemat dan mengurangi biaya, menangguhkan atau memangkas belanja yang tak perlu, dapat disisihkan untuk meningkatkan aset.

Lebih lanjut digambarkan seperti ini “kita mengurangi belanja Rp1.000, sama saja meningkatkan pemasukan Rp1.000.

Sebagai penutup saya katakan kepada Anda bahwa kebiasaan mengatur finansial akan membantu keberhasilan kita dalam menyiapkan rencana keuangan, melalui tabungan, mengatur pengeluaran, dan melacak belanja yang kita lakukan sehari-hari.

Jadi, apakah Anda sudah bijak dalam mengelola keuangan?