Dinas koperasi dan UKM DIY, menyelenggarakan sosialisasi “Pengenalan model Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur Budaya” pada tanggal 12 dan 28 Februari 2019, bertempat di Aula Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM DIY. G2R Tetrapreneur merupakan gerakan gotong royong wirausaha desa berbasis 4 pilar yaitu rantai (Tetra 1), pasar (Tetra 2), kualitas (Tetra 3), dan merek wirausaha (Tetra 4) untuk mengangkat kemandirian dan kewibawaan produk desa menjadi ikon-ikon dunia. Model G2R Tetrapreneur merupakan salah satu program unggulan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikembangkan oleh konseptor dan Tenaga Ahli G2R Tetrapreneur Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D, dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 2018, G2R Tetrapreneur telah dilaksanakan di Desa Wukirsari dan desa Girirejo sebagai pilot village G2R Tetrapreneur dan telah menyelesaikan Tetra 1 dengan produk unggulan dari masing-masing desa. Selanjutnya, pada tahun 2019, kedua desa tersebut memasuki Tetra 2 yaitu ‘penciptaan pasar non-kompetisi’.

Pada tahun yang sama, yaitu 2019, pengembangan G2R Tetrapreneur yang diusung oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY ini lebih mengedepankan kebudayaan sebagai akar dari kewirausahaan sehingga nantinya akan lebih dikenal sebagai Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur Budaya. Nantinya, kegiatan ini akan berkerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY dalam program Adat, Seni, dan Tradisi. G2R Tetrapreneur Budaya ini akan dilaksanakan di 5 Desa Mandiri Budaya, yaitu  Desa Bejiharjo dan Desa Putat (Kabupaten Gunung Kidul), Desa Sabdodadi (Kabupaten Bantul), Desa Pagerharjo (Kabupaten Kulon Progo), dan Desa Bangunkerto (Kabupaten Sleman).

Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY yang menyampaikan bahwa G2R Tetrapreneur Budaya sebagai model kewirausahaan merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan dan mengoptimalkan produk-produk desa mandiri budaya. Adapun alasan dipilihnya desa budaya sebagai pilot village G2R Tetrapreneur Budaya karena desa budaya jangan sampai untuk budaya saja, namun juga harus dikembangkan kewirausahaannya. Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Ir. Srie Nurkyatsiwi, M.M.A., Desa budaya tidak hanya menjadi ‘tempat buang sampah’ wisatawan saja, namun UMKM juga harus maju. Kepala Dinas juga berharap agar nantinya segenap peserta sosialisasi dapat turut bersinergi, berkolaborasi, dan mengajak masyarakat untuk mensukseskan program G2R Tetrapreneur Budaya ini.

Senada dengan ibu Kepala Dinas Koperas dan UKM DIY, Bapak Agus Mulyono, SP, MT., selaku Kepala Bidang Layanan Kewirausahaan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah mengungkapkan bahwa perlunya untuk menciptakan produk unggulan didesa budaya agar semua sektor di desa budaya dapat bersinergi dan saling mengangkat pertumbuhan ekonominya seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang datang di Desa Budaya. Bapak Agus Mulyono, SP, MT. mengungkapkan bahwa, meskipun ber-laber desa budaya, namun substansi ataupun kegiatannya adalah kewirausahaan. Oleh karena itu, desa tidak hanya pasif menerima para wisatawan yang datang, namun juga dapat mengembangkan cara agar kewirausahaan di desa tetap dan terus berjalan.

Paparan selanjutnya disampaikan oleh Ibu Yuliana Eni L.R., selaku Kasi Kesenian Dinas kebudayaan DIY. Menurut Ibu Yuliana Eni, merujuk pada Pergub No 36 Tahun 2014 Pasal 1, bahwa Desa Budaya adalah Desa/Kelurahan yang mengaktualisasikan, mengembangkan dan mengkonversi kekayaan potensi budaya yang dimilikinya yang tampak pada adat dan tradisi, kesenian, permainan tradisional, bahasa, sastra, aksara, kerajinan, kuliner,  pengobatan tradisional, pemetaan ruang dan warisan budaya.  Selanjutnya, desa mandiri budaya adalah desa otonom yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri melalui pendayagunaan dan pemanfaatan segenap sumberdaya internal desa dan eksternal untuk mengaktualisasikan, mengembangkan dan mengkonservasi kekayaan potensi budaya benda dan tak benda yang dimilikinya melalui pelibatan partisipasi aktif warga dalam pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Di DIY sendiri ada kurang lebih 56 desa Budaya. Diharapkan dengan G2R Tetrapreneur Budaya ini akan lebih mendorong desa untuk dapat mandiri melalui kewirausahaan yang berbudaya.

Rika Fatimah PL, ST, MSc, Ph.D., selaku salah satu narasumber juga tidak henti-hentinya menyampaikan bahwa kunci dari keberhasilan G2R Tetrapreneur adalah kebersamaaan masyarakat.  “kita itu sukses bareng-bareng, kaya bareng-bareng, maju juga bareng-bareng. Jangan sampai diri sendiri saja yang maju bisnis-nya”. “Kita mau sekedar jualan saja, atau, kita mau berbisnis dengan besar, itu kuncinya juga hanya kita sendiri”, tutur Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D.

Dalam acara tersebut juga dilangsungkan diskusi penyusunan buku Pedoman Pelaksanaan G2R Tetrapreneur Budaya. Buku pedoman tersebut nantinya akan menjadi pedoman atau tuntunan bagi pelaksanaan Gerakan G2R Tetrapreneur Budaya sehingga tidak keluar dari jalur yang telah disepakati. Acara tersebut berjalan lancar dan dihadiri oleh Bank Pembangunan  Daerah DIY, BAPPEDA Sleman, BAPPEDA DIY, BAPPEDA Bantul, Pemerintah Desa Bejiharjo, BUMDes Bejiharjo, Pendamping Desa Sabdodadi, BUMDes Sabdodadi, Karang Taruna Sabdodadi, Pemerintah Desa Putat, BUMDes Pagerharjo, Karang Taruna  Pagerharjo, Karang Taruna Sendangmulyo, BUMDes Putat, perwakilan BPD DIY, Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY, Dinas Koperasi dan UKM  Gunung Kidul, dan Dinas Koperasi dan UKM Kulon Progo.

Rangkaian dari program G2R Tetrapreneur Budaya adalah Training of Traineer (ToT) yang diselenggarakan di lima (5) Desa, yaitu Desa Bejiharjo dan Desa Putat (Kabupaten Gunung Kidul), Desa Sabdodadi (Kabupaten Bantul), Desa Pagerharjo (Kabupaten Kulon Progo), dan Desa Bangunkerto (Kabupaten Sleman). Kegiatan ToT ini bertujuan untuk pemilihan produk unggulan desa yang sesuai dengan kriteria produk unggulan G2R Tetrapreneur Budaya.

Pada ToT tersebut telah terpilih dua (2) produk unggulan dari masing masing desa diantaranya, olahan salak dan olahan singkong dari desa Bangunkerto; kesenian Lengger dan jamu dari desa Pagerharjo; olahan kakao dan wisata Batoer Hill dari desa Putat; olahan daging sapi dan wisata Goa Pindul dari desa Bejiharjo; dan olahan okra dan wisata bantaran sungai Winongo. Selain pemilihan produk unggulan, kegiatan ToT ini adalah untuk memilih pengurus atau Person in Charge (PIC) dari setiap unit G2R Tetrapreneur Budaya yang terdiri dari Ketua/Direktur, Manajer Tim, Manajer Budaya, dan Ambassador. Juga dipilihnya pengurus fungsi – fungsi G2R Tetrapreneur Budaya yang terdiri dari memamahi produk unggulan, memahami pasar, memahami  pesaing, memahami keuangan, perencanaan keuangan, memahami operasional, dan integrasi budaya global.


(kiri-kanan): Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D. (Konseptor dan Tenaga Ahli G2R tetrapreneur), Ir. Srie Nurkyatsiwi, M.M.A (Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY), dan Yuliana Eni L.R. (Kasi Kesenian Dinas kebudayaan DIY)
Sosialisasi G2R Tetrapreneur Budaya kepada Desa, Pemerintah Daerah, dan beberapa stakeholder lainnya;
Foto bersama peserta ToT di Desa Sabdodadi
Simulasi fungsi dan tugas unit – unit G2R Tetrapreneur Budaya
Simulasi fungsi dan tugas unit – unit G2R Tetrapreneur Budaya

Simulasi fungsi dan tugas unit – unit G2R Tetrapreneur Budaya
Simulasi fungsi dan tugas unit – unit G2R Tetrapreneur Budaya