Bahan tambahan pangan cukup sering ditemui saat ini, bahan ini banyak ditemui pada makanan yang dijual ke masyarakat.Amankah bahan tambahan pangan ini dikonsumsi? Sebelumnya baiknya kita mengenal dulu apa yang dimaksud dengan bahan tambahan pangan (BTP) itu.
Bahan Tambahan Pangan adalah bahan/campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. Sesuai dengan PERMENKES No. 33 Tahun 2012 penggolangan BTP adalah sebagai berikut :
1. Antibuih (Antifoamng agent)
2. Antikempal (Anticacking agent)
3. Antioksidan (Antioxidant)
4. Bahan pengkarbonasi (Carbonating agent)
5. Garam pengemulsi (Emulsifying salt)
6. Gas untuk kemasan (Packaging gas)
7. Humektan (Humectant)
8. Pelapis (Glazing agent)
9. Pemanis (Sweetener)
10. Pembawa (Carrier)
11. Pembentuk gel (Gelling agent)
12. Pembuih (Foaming agent)
13. Pengatur keasaman (Acidity regulator)
14. Pengawet (Preservative)
15. Pengembang (Raising agent)
16. Pengemulsi (Emulsifier)
17. Pengental (Thickener)
18. Pengeras (Firming agent)
19. Penguat rasa (Flavour enhancer)
20. Peningkat volume (bulking agent)
21. Penstabil (Stabilizer)
22. Peretensi warna (Colour retention agent)
23. Perisa (Flavouring)
24. Perlakuan Tepung ( Flour treatment agent)
25. Pewarna (Colour)
26. Propelan (Propellant)
27. Sekuestran (Sequestrant)
Bisakah Bahan Tambahan Pangan (BTP) itu dikonsumsi oleh masyarakat? Tentu saja bisa asalkan memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. BTP yang biasanya kita temui pada makanan diantaranya adalah : bahan pewarna (Colour Agent) dan bahan pemanis (Sweetener).
1. Bahan Pewarna (Colour Agent)
Tujuan pemberian bahan pewarna antara lain adalah : memberikan kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan warna makanan, menstabilkan warna makanan, menutupi perubahan warna yang terjadi selama proses pengolahan makanan, mengatasi perubahan warna selama penyimpanan makanan..
Bahan pewarna makanan dibagi menjadi 2 jenis yaitu pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami adalah pewarna yang dibuat melalui proses ekstraksi, isolasi, atau derivatisasi (sintesis parsial) dari tanaman, hewan, mineral atau sumber alami lain termasuk pewarna identik alami. Contoh : Kurkumin Cl.No.75300; Riboflavin; Karmin; Karmin Cl.No.75470; Klorofil Cl.No.75810; Karamel; Beta-karoten Cl.No.75130; Antosianin; dan Titanium sioksida Cl.No.77891.
Pewarna sintetis adalah pewarna yang diperoleh/dibuat secara sintesis kimiawi. Contoh : Tartrazin Cl. No. 19140; Kuning kuinolin Cl. No. 47005; Kuning FCF Cl. No. 15985 (sunset yellow FCF); Karmoisin Cl. No. 14720; Eritrosin Cl. No. 45430; Biru berlian FCF Cl. No. 42090; dan Hijau FCF Cl. No. 42053.
Bahan Tambahan Pangan tersebut adalah BTP yang diperbolehkan untuk dikonsumsi atau dipergunakan pada makanan.Tapi terdapat pewarna yang berbahaya sehingga tidak boleh digunakan untuk makanan, pewarna itu sebenarnya bukan untuk makanan melainkan pewarna untuk tekstil seperti : Metanil Yellow (kuning metanil) yang berwarna kuning, Auramin berwarna kuning dan Rhodamin B yang berwarna merah. Perwarna ini sangat berbahaya karena telah terbukti dapat menyebabkan kanker yang gejalanya tidak terlihat langsung setelah dikonsumsi melainkan jangka panjang.
Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna berbahaya/tekstil diantaranya adalah distribusi warna tidak rata (untuk pangan berbentuk padat), warna berpendar bila terkena cahaya langsung, dan biasanya berwarna sangat mencolok.
2. Bahan Pemanis (Sweetener)
Pemanis terbagi menjadi pemanis alami dan pemanis buatan.
Pemanis alami adalah pemanis yang dapat ditemukan dalam bahan alam meskipun prosesnya secara sintetik ataupun fermentasi. Contoh : Sorbitol, Manitol, Isomalt, Glikosida steviol, Maltitiol, Silitol.
Pemanis buatan adalah pemanis yang diproses secara kimiawi, dan senyawa tersebut tidak terdapat di alam. Pemanis buatan sering ditambahkan ke dalam makanan dan minuman sebagai pengganti gula karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pemanis alami (gula tebu/sukrosa), yaitu : rasanya lebih manis, membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori atau mengandung kalori yang jauh lebih rendah sehingga cocok untuk penderita penyakit gula (diabetes) dan harganya lebih murah contoh : Siklamat, Sakarin, Aspartam, Asesulfam-K, Sukralosa, dam Neotam.
Tingkat kemanisan pemanis buatan tersebut dapat mencapai puluhan bahkan ratusan kali gula alami. Siklamat mempunyai tingkat kemanisan 30-80 kali gula alami, Aspartam 180 kali gula sedangkan sakarin 300 kali gula alami, sehingga pemanis buatan tersebut sering disebut sebagai biang gula.
Anak-anak dianjurkan untuk tidak diberikan makanan yang mengandung pemanis buatan karena kandungan kalori yang rendah, sedangkan anak-anak membutuhkan kalori yang cukup tinggi untuk menunjang aktifitasnya.Di beberapa negara penggunaan beberapa pemanis buatan sudah dilarang penggunaannya karena pada penggunaan dalam dosis besar dan jangka yang cukup panjang dapat menimbulkan kanker.Contohnya : pemanis siklamat dilarang penggunaanya oleh FDA Amerika Serikat.
Pemanis buatan yang juga telah dilarang penggunaanya karena bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) yaitu : dulcin dan P-4000 (2-amino 4-nitro 1-phenol propoxybenzene). Dulcin dapat menyebabkan tumor hati dan mengganggu produksi sel darah merah, sedangkan P-4000 dapat merusak ginjal dan mengganggu fungsi tiroid.
Demikian ulasan tentang beberapa bahan tambahan pangan yaitu bahan pewarna dan bahan pemanis. Pengetahuan konsumen tentang bahan tambahan pangan ini sangat diperlukan agar dapat mencegah bahaya yang mungkin ditimbulkan bila mengkonsumsi bahan tambahan yang dapat merugikan kesehatan.