Mata_uang_Rupiah
Beberapa hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika kian melemah dan menyentuh angka Rp. 14.000. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi perekonomian Indonesia yang beberapa waktu ini kian lesu dan terus melemah. Di lain sisi, melambungnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika juga menjadi momentum bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengambil kesempatan dalam meningkatkan produktifitasnya. Sebab, di saat nilai dolar semakin tinggi, maka harga produk-produk dari luar negeri akan semakin tidak terbeli oleh masyarakat Indonesia.
Tingginya nilai tukar dolar tentu tidak akan berpengaruh ketika bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kakinya sendiri (berdikari). Melihat sumber daya alam yang begitu melimpah, seharusnya kita tidak perlu khawatir terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar. Hanya saja, hingga hari ini masih banyak masyarakat dalam negeri yang bergantung pada asing. Sebut saja tempe dan tahu. Meskipun pengolahannya di dalam negeri, ternyata untuk mendapatkan bahan baku kedelai untuk pembuatan tahu dan tempe kita harus mengimpor dari negara lain. Tentu ketika kita mendatangkan bahan baku dari luar negeri, kita akan bersingguhan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Akhirnya, di lapangan banyak pengrajin tempe dan tahu yang cemas karena mahalnya bahan baku. Tidak sedikit para pengrajin tempe yang menaikkan harga tempe maupun mengurangi ukuran tempa dan tahu dari ukuruan biasanya.
Kondisi ini tentu berbeda jika bangsa ini dapat melakukan swasembada pangan lokal. Para pengrajin tahu dan tempe tidak perlu mendatangkan bahan baku dari luar negeri, tetapi cukup menggunakan bahan baku dari dalam negeri. Jika yang terjadi demikian, maka berapapun nilai tukar rupiah terhadap dolar sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat.
Inilah PR pemerintan yang harus segera dibenahi. Selama negara ini masih bergantung pada negara lain, maka kemandirian bangsa tidak akan terbangun. Sumber daya alam yang begitu melimpah tidak ada gunanya.

Momentum

Untuk menjadi negara yang mandiri, keberadaan UMKM memiliki posisi yang strategis untuk kembali menggeliatkan perokonomian nasional. Di saat melemahnya nilai tukar rupiah, dipastikan daya beli masyarakat terhadap produk luar negeri akan melemah pula. Kondisi tersebut merupakan saat yang tepat untuk kembali menggeliatkan produk-produk dalam negeri.
Berkaca pada sejarah, pada saat krisis moneter 1998 silam, sektor UMKM menjadi penyelamat perekonomian nasional. Banyak pihak yang berharap pada saat melemahnya perekomomian nasional saat ini, UMKM mampu kembali tampil menjadi penyelemat perekonomian nasional sebagaimana pada krisis moneter tahun 1998. Tidak dapat dimungkiri bahwa sektor UMKM menjadi pondasi utama perekonomian nasional mengingat jumlahnya mencapai 98 persen dari pelaku perekonomian di Indonesia.
Dalam hal ini, masing-masing pemerintah daerah dapat mengenalkan produk-produk unggulan kepada masyarakat melalui kegiatan pameran atau pasar murah. Selain itu, para pelaku UMKM juga harus gencar melakukan kegiatan promosi dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mengenalkan produk-produk lokal yang berkualitas.[]