Di kutip dari tulisan Herti Annisa yang cukup menginspirasi, saya mencoba untuk memaparkan kembali tentang tips menaikkan harga. Karena menaikkan harga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada konsekuensi logis yang harus di terima bisa tidak berhati-hati, misalnya customer yang lari ke lain produk.

Menurut Herti Annisa, sebuah bisnis kadang kala harus melakukan perubahan agar bisa tetap berjalan, termasuk masalah perubahan harga. Biaya produksi yang terus meningkat belum lagi bahan baku dan lainnya yang terus naik membuat banyak pengusaha terpaksa menaikkan harga produknya. Menaikkan harga bisa dibilang solusi satu-satunya untuk menutupi biaya operasional saat semua harga naik daripada bisnis harus gulung tikar. Mungkin Anda saat ini sedang dilema antara menaikkan harga atau tidak. Berikut tips yang harus Anda lakukan jika terpaksa menaikkan harga.

Diskusikan dengan Konsumen

Libatkan konsumen ketika Anda berencana menaikkan harga. Mereka yang loyal terhadap usaha Anda tentu lebih tahu tentang pekembangan bisnia Anda. Agar konsumen tidak terkejut, diskusikan terlebih dahulu dalam menentukan harga. Hal tersebut dapat menghindari kehilangan pelanggan. Jika mereka tak setuju, Anda dan konsumen harus mencari jalan tengah yang memberikan keuntungan kedua belah pihak.

Menaikkan Harga, Menaikkan Nilai Produk

Ketika mendengar adanya perubahan harga, biasanya konsumen akan mulai mencari produk lain. Namun, Anda juga harus menaikkan nilai produk agar konsumen tetap loyal terhadap usaha Anda. Pastikan bahwa nilai produk yang Anda tawarkan juga berubah seiring dengan kenaikan harga. Di luar sana masih banyak konsumen yang mementingkan kualitas ketimbang harga. Dengan menaikkan nilai produk niscaya konsumen juga bisa menerima keputusan Anda.

Informasikan Perubahan Harga

Setelah konsumen menerima perubahan harga, kini saatnya untuk Anda memberitahukan ke mereka. Sebarluaskan informasi hargabaru tersebut ke setiap konsumen . Anda bisa meberitahukan kenaikan harga per tanggal atau periode yang telah ditentukan dalam selembar pamflet, brosur, atau melalu mulut ke mulut.

 

Sumber; Herti Annisa dalam http://majalahgrowprofit.com