Pada postingan sebelumnya kami telah membahas
mengenai apa itu Business Continuity Plan (BCP) dapat
di baca di sini . BCP merupakan sebuah konsep
perencanaan bagaimana suatu organisasi/perusahaan
sekala mikro, kecil, maupun menengah juga koperasi
(KUMKM) mampu bertahan dalam menghadapi bencana
yang terjadi.

BCP menyangkut segala hal perencanaan dalam
antisipasi terjadinya bencana, dari mulai logistik,
managemen, database, pemasaran, produksi, dll.
Secara konsep adalah bagaimana sebuah usaha
mampu bertahan dan terus berkembang dalam kondisi
bencana.

Sebagaima kita ketahui bersama, Indonesia merupakan
negara yg berada dalam Ring of Fire, dimana
kemungkinan terjadi bencana alam sangat besar. Mulai
gempa bumi, banjir, gunung meletus, dll. Kesemua
bencana tersebut sangat mengancam keberadaan
penduduk serta dunia usaha.

Guna meminimalisir dampak dari ancaman bencana
alam terhadap dunia usaha terutama pelaku KUMKM,
maka langkah-langkah persiapan harus dilakukan. Jika
bencana benar terjadi, maka KUMKM sudah mempunyai
standar yang harus diterapkan, tindakan apa saja yang
harus segera dilakukan. Hal ini tidak lain adalah guna
menjaga keberlangsungan usaha KUMKM selam
bencana terjadi.

Sebagai contoh, gempa bumi yang terjadi di Jogja
mampu meluluhlantakan jogja dan sekitarnya. Banyak
korban nyawa maupun benda. Banyak usaha yang ikut
hancur. Bahkan kondisi ekonomi KUMKM lumpuh
samapai berbulan-bulan.

Pada saat itu, masyarakat jogja tidak menyangka ak
sama sekali akan terjadi gempa sedahsyat itu.
Sehingga ketika terjadi bencana maka semua berhenti.
Berbeda kasus dengan yang terjadi ketika gunung
merapi meletus. Dari segi dampaknya di bawah gempa
jogja. Namun masyarakat dan pelaku KUMKM
cenderung jauh lebih siap. Sehingga korban dari
letusan merapi marapi mampu diminimalisir. Selain itu,
dunia KUMKM cenderung lebih cepat bangkit lagi.
Begitulah sekiranya pentingnya persncanaan guna
mengantisipasi terjadinya bencana. Untuk dunia usaha,
perencanaan tersebut dinamakan Business Continuity
Plan (BCP).