Oleh: Imam syafi’i
Konsultan Branding

Minggu lalu saya berkesempatan sharing bareng rekan-rekan pengurus koperasi seluruh Gunungkidul dalam kegiatan Diklat Kompetensi SDM Pengelola Koperasi yang diselenggarakan oleh dinas Perindagkop dan ESDM kab. Gunungkidul. Kebetulan saya diminta untuk memfasilitasi sesi motivasi usaha.

Dari hasil pembicaraan saya dengan peserta, dapat dipetakan pengurus koperasi menjadi beberapa kelompok diantaranya, koperasi simpan pinjam yang sudah pasti produknya adalah jasa keuangan dalam bentuk kredit. Kelompok kedua adalah koperasi serba usaha, yang notabane salah satu usahanya adalah simpan pinjam, usaha liannya ada toserba. Kelompok terahir adalah koperasi produksi, koperasi yang memang focus usahanya adalah memproduksi suatu produk tertentu.

Sebagai sebuah lembaga tentunya koperasi memiliki aturan main dan tujuan sendiri. Sebagai sebuah bisnis, harusnya koperasi memiliki target yang harus dicapai dalam suatu periode tertentu. Hal ini menjadi sangat penting karena dengan memiliki target pencapaian bisnis kita dapat merencanakan strategi step by step-nya dalam mengembangkan bisnis koperasi itu sendiri.

Seperti biasanya, ketika saya memfasilitasi sebuah kelas biasanya mengajak para peserta untuk sedikit bermain dengan corat-coret kertas. Pun dengan kelas yang diisi oleh para pengurus koperasi dari kabupaten Gunungkidul ini. Perserta saya minta untuk mengeluarkan dua lembar kertas, lembar yang pertama saya minta mereka untuk menuliskan kondisi koperasi yang terjadi saat ini. Apa pun kondisinya. Di kertas satunya, saya meminta peserta untuk menuliskan harapat/target dalam kurun waktu 1-3 tahun koperasi tempat mereka bernaung akan menjadi seperti apa.

Setelah peserta menuliskan kedua hal tersebut, lantas saya tanyakan ke peserta “gimana bapak dan ibu? Apa yang bapak dan ibu rasakan ketika mebandigkan kedua hal tersebut?”. Beragam tanggapan dari peserta, namun kurang lebih seperti ini “Ada jurang pemisah mas, banyak yang harus dikerjakan, tapi ini susah dilakukan.” Jawab dari salah satu peserta.

Ya, salah satu tujuan saya memerintahkan peserta untuk menuliskan kedua hal tersebut adalah untuk memancing mereka mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk menggapai sebuah tujuan. Namun sayangnya, ketika saya tanyakan balik ke para pengurus koperasi “Bapak dan Ibu, kita-kita harapan yang dituliskan tadi menjadi harapan di koperasi bapak dan ibu bernaung tidak?” mereka menggelengkan kepala.

Apa! Batin saya. Jadi selama ini berkoperasi tidak tahu dengan jelas apa target dari kopersai yang mereka kelola. Dan parahnya lagi, hal ini juga tidak menjadi perioritas dari para pengurus koperasi. Gila! Saya pikir. Bagaimana koperasi dapat berembang jika target tahunan saja pengurus dan pengelola koperasi tidak mengetahuinya. Jadi kalau diumpamakan orang berjalan, mereka berjalan saat ini tanpa tujuan yang jelas.

Tanpa panjang lebar saya minta ke mereka semuanya, sepulang dari diklat, bapak dan ibu harus segera mengumpulkan pengurus dan pengelola untuk merumuskan targetan apa yang harus dicapai dalam berkoperasi. Jika tidak maka jangan salahkan siapapun jika lambat laun koperasi bapak dan ibu akan menghilang dengan suksesnya.

Sekali lagi, sangat penting kita untuk merumuskan targetan apa yang ingin dicapai dalam berbisnis. Target yang jelas dan terukur dalam bisnis akan mengarahkan kita untuk mau tidak mau menyusun strategi guna mencapai target tesebut. Di sisi lain, saat kita sudah merumuskan strategi mencapai target, maka kita akan menentukan bagaimana mengevaluasi sudah sejauh mana strategi tersebut mencapai target yang ingin dicapai.

Dengan menyususn rencana pengembangan bisnis, kita jadi punya sebuah rekam pencapaian bisnis sudah sampai mana. Mana strategi yang gagal dan mana strategi yang memberikan dampak lebih dari estimasi target. Dari rekaman tersebut kita dapat mengevaluasi mana strategi yang harus dilanjutkan dan mana strategi yang harus diperbarui atau harus dibuang dengan tujuan mengembangkan usaha/bisnis.

“Jadi jangan mengeluh jika usaha atau koperasi dari bapak dan ibu tidak pernah berkembang, karena memang tidak punya target yang harus bapak dan ibu capai.” kalimat penutupsaya di kelas tersebut.