Yogyakarta (24/07/2014) – Dewasa ini, perkembangan dunia usaha berkembang pesat. Perkembangan teknologi informasi yang pesat turut serta menciptakan situasi yang serba lues di dunia usaha. Dunia usaha tidak bisa lagi hanya monoton dalam mengelola usahanya, termasuk produknya. Perkembangan teknologi informasi yang pesat menuntut pelaku usaha terutama KUMKM harus mampu menciptakan inovasi tertentu, baik dari sisi pemasaran maupun produk.

Dalam perkembangan usaha saat ini, produk tidak hanya dilihat sebagi produk saja, obyek yang bisa dibeli. Produk sudah harus mampu menunjukan dirinya sendiri. Menunjukan bahwa produk itu seperti apa yang dikehendaki produsennya, tidak sekedar hanya produk yang dijual oleh produsen kepada konsumen.

Seperti hanya ketika kita disebutkan kata “SBY” maka yang akan langsung terlintas dalam pikiran kita ”SBY itu gagah, SBY itu berwibawa”. Ketika disebutkan nama dari kedua calon presiden kemaren, “Prabowo” maka yang akan terlintas dalam benak kita “Prabowo itu tegas” ada pula yang mengatakan “Prabowo itu galak”, namun ketika disebutkan nama ”Jokowi” maka yang akan ada dibenak kita ”’Jokowi itu ndeso, Jokowi itu merakyat”. Begitulah sekiranya ilustrasi bagaimana harusnya produk pada saat ini.

Produk harus dibuat sedemikian rupa sehingga mempersepsikan produk tersebut sesuai dengan keinginan produsen. Menanggapi hal tersebut, Pusat Layanan Usaha Terpadu/ PLUT-KUMKM DI Yogyakarta bekerja sama dengan Jogja Tempo dulu mengadakan pendampingan teknologi tepat guna Pengemasan Produk di auditorium masjid Nitikan, Sorosutan, Kota Yogyakarta pada hari Rabu, 23 Juli 2014. Acara dihadiri sekitar 30an pelaku KUMKM sekitar Nitikan.

Sebagaimana disebutkan di atas, guna meciptakan persepsi pada produk, salah satu yang bisa digunakan adalah kemasan. Beberapa tahun yang lalu, kemasan produk hanya berfungis sebatas pembungkus dan pelindung dari produk itu sendiri. Seiring dengan berkembangnya dunia usaha, kemasan berfungsi lebih kompleks, lebih dinamis sesuai dengan tujuan dari produsen.

Seperti halnya contoh beberapa tokoh di atas, dengan kemasan produk pun bisa dipersepsikan seperti itu. Produk yang ingin dipersepsikan mewah, maka kemasan yang dibikin harusnya juga mewah, ciptakan melalui kemasan bahwa produk tersebut mewah. Jika kemasan mampu menciptakan persepsi seperti itu maka jangan heran ketika orang mau membelinya dengan harga yang lebih.

Selain sebagai upaya mempersepsikan produk, kemasan juga bisa digunakan strategi menaikan harga, seperti halnya di atas, orang mau mengeluarkan harga lebih hanya dari kemasan yang dipakai. Contoh yang lain, ketika kita beli keripik singkong misalnya, sama-sama keripik singkong, ketika kita belinya di minimarket maka harganya akan jauh lebih mahal dibandingkan kita beli di toko grosir jajanan. Produknya sama, yang membedakan keduanya adalah pada kemasan produk yang dipakai.

Tidak hanya sebatas itu, fungsi kemasan juga bisa sebagai media iklan dari produk yang dikemas. Dari data berbagai sumber, 70 % keputusan konsumen muncul dalam jarak 1 (satu) meter dari produk dan 70 % penjualan dipengaruhi oleh warna. Dari data tersebut dapat ditarik titik terang bahwa, desain kemasan yang baik dapat mengundang orang untuk membeli produk itu sendiri. Dan itulah yang disebut kemasan sebagai iklan dari produknya. by @bossmalas