Setelah dua kali melakukan rapat, dalam agenda kali ini membahasa mengenai ownership, kelembagaan dan parameter galeri PLUT, Senin (23/01) kemarin. Dalam kesempatan ini ketua APIKRI Amir Pansuri menjelaskan bahwa ada enam aspek yang nantinya akan menajdi pokok bahasan diantaranya ownership, suport system, parameter, produk, tenaga profesional dan adanya analisis SWOT.

Banyak pendapat yang disampaikan oleh para peserta rapat, Dewi Hadhi menggambarkan tentang showroom batik di Bantul yang mana dana tersebut diperoleh dari APBD. Dalam sistem operasionalnya, para pengrajin batik dan paguyuban batik harus menyetorkan ke showroom batik tersebut. Selanjutnya dalam pembagian hasilnya tersebut showroom batik mendapatkan 15% dari harga per item. Sehingga harga di tempat paguyuban dan di showroom batik itu sama. Menurut Dewi Hadhi, nantinya dapat menjadi gambaran sebelum membuka galeri PLUT.

rapat7


Terkait
ownership Amir Pansuri menjelaskan bahwa galeri PLUT ini bisa menerapkan nilai dan prinsip koperasi. Disisi lain galeri PLUT ini sebagi trading house yang mana berbeda dengan trading house di desa (village trading house). Berbicara mengenai fungsi, galeri tersebut mempunyai fungsi sebagai instrumen marketing dan sebagai instrumen penguatan keberadaan di wilayah DIY.

Selanjutnya ditambahkan oleh peserta rapat lain bahwa galeri PLUT tersebut lokasinya sangat strategis, dapat bekerjasama dengan tour and travel, sepeti halnya Mirota Batik di Malioboro, dimana pemasoknya adalah dari UKM. Kemudian untuk melegalitaskannya, lembaga yag paling ideal adalah koperasi buka PT ataupun CV. Selain itu disampaikan juga bahwa jangan lupa kunci bisnis ini adalah lembaga yang mampu mengayomi UMKM.IMG-20170125-WA0005[1]

Amir Pansuri menegaskan bahwa akan dibentuk kelembagaan koperasi yang mana anggotanya berupa korwil, korda, PLUT, UMKM, bukan untuk berkompetitif. Nantinya galeri yang bertujuan sebagai trading house selain dapat membiayai dirinya sendiri juga dapat memberikan manfaat finansial bagi UMKM.

Sedikit dibahas bahwa real bisnis yang akan dibentuk ialah dengan alur model bisnis kanvas. Dengan target market berupa peserta studi banding dan tamu dinas, wisatawan lokal, wisatawan mancanegara, event organizer, trader, dan reseller. Selain itu juga dipertimbangkan mengenai sisi demografis, geografis, daya beli dan psikologis. Untuk lebih lanjut pembahasan mengenai model bisnis kanvas ini akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Sagitaria Saputri/Mahasiswa Magang/Ekonomi Syariah/UIN Sunan Kalijaga