Pertemuan ini merupakan rapat ke-4 yang sudah progres membahas tentang riil bisnis galeri PLUT. Konsep bisnis yang digunakan ialah dengan menerapkan model bisnis kanvas, Rabu, (25/01) kemarin. Model bisnis ini awalnya dikenalkan oleh Alexander Osterwalder dalam bukunya Business Model Generation. Penerapan model bisnis ini diperhitungkan ketika akan memulai bisnis sehingga ada 9 langkah yang perlu diperhatikan dan dipikirkan tentang kelanjutan bisnis yang akan dijalankan.

Dalam rapat yang dihadiri oleh ketua ABIKRI Amir Pansuri, dan konsultan di PLUT serta adanya mahasiswa PKL. Dalam rapat tersebut dibahas lebih dalam mengenai customer segments dan value preposition hingga sedikit mengenai revenue stream serta key partner. Dalam pembahasan ini hanya disebutkan poin-poin utamanya saja, kecuali customer segment, dengan diprioritaskan siapa yang akan menjadi konsumen. Selain itu nantinya produk-produk yang nantinya di jual di galeri tidak dijual ditempat lain. Sehingga nantinya orang bukan hanya membeli barang, akan tetapi mendapatan nilai dan hal-hal lebih dibalik pembelian barang.

IMG-20170203-WA0002[1]

Disisi lain orang yang membeli produk ditujukan agar ikut serta memberdayakan produk UMKM. Dari sisi demografis, daya beli, geografis, psikologis dan pragmatis konsumen juga perlu dipertimbangkan. Mengenai karakter konsumen juga sangat perlu, apalagi dengan adanya perbedaan gender dan usia. Jadi, setiap suku daerah di Indonesia memiliki budaya dan selera yang berbeda. Untuk itu perlu adanya penyesuaian produk yang disediakan di galeri PLUT.

Berkaca pada pengalaman bahwa orang Indonesia atau wisatawan lokal memiliki karakteristik yang berbeda dengan wisatawan mancanegara. Dimana wisatawan lokal cenderung lebih menyukai tempat berbelanja dengan pilihan produk yang begitu banyak, tempat dan suasana yang nyaman. Hal ini perlu menjadi perhatian sebelum membuka galeri. Customer segement yang menjadi prioritas utama ialah peserta studi banding dan tamu dinas. Dengan mempertimbangkan faktor penarik unik, produk hasil pendamping, umur, ajang belajar, waktu yang pendek, daya beli, dan faktor gender.

Selanjutnya ada wisatawan lokal dengan mempertimbangkan tujuan berbelanja, murah, bagus tetapi mendapatkan barang yang banyak, dibawa oleh tour and travel, cenderung menyukai produk khas Jogja, ukuran barang yang mudah dibawa. Ketiga ada trader dan reseller, awalnya trader dan reseller ini disendirikan. Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya disatukan menjadi konsumen dengan prioritas ketiga. Dimana yang dipertimbangkan ialah mengenai kuantitas dan kualitas barang, harga yang kompetitif, jual produk untuk memperoleh keuntungan, membeli barang dnegan volume yang besar, serta kemudahan dalam pengiriman.

IMG-20170203-WA0003[1]

Pembahasan selanjutnya mengenai value preposition membahas garis besarnya yang meliputi khas jogja itu sendiri, galeri PLUT yang informatif, nuansa memorable, tracebelity, nantinya akan disediakan tempat untuk foto boat. Selain itu akan dilengkapi dengan berbasis jaringan, dengan penjualan hibrid dan disediakan layanan logistik yang mana dengan demikian akan lebih memudahkan konsumen dalam membeli barang baik dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Revenue stream baru membahas mengenai penjulan langsung, order produk yang meliputi reseller, trader dan wisata mancnegara. Selanjutnya ada pertnership atau co branding, logistik dan bridging. Mengenai key partner, galeri PLUT dapat menjalin kerjasama dengan korda, dinas, DTH, UMKM, komunitas serta tour and travel. Dari pembahasan tersebut, akan dilanjutkan lebih mendalam dibahas mengenai cost structure pada rapat selanjutnya.

Sagitaria Saputri/Mahasiswa Magang/Ekonomi Syariah/UIN Sunan Kalijaga