IMG20170221094706Di era digital seperti sekarang ini, pelaku UKM dituntut untuk kretaif dan inovatif sehingga memiliki daya saing. Perkembangan teknologi informasi saat ini sangat memungkinkan setiap pelaku usaha untuk mengembangkan produknya secara kreatif, baik dari sisi pengemasan produk maupun strategi pemasarannya.
Oleh karena itu PLUT KUMKM DIY (Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Daerah Istimewa Yogyakarta) pada hari Selasa tanggal 21 Febuari 2017 menyelenggarakan pelatihan bisnis dengan tema “Bagaimana Menjadi Kreatif dan Inovatif dalam Mengelola Usaha” dan narasumber Bapak Rommy Heryanto.

IMG20170221094706
Pak Romi membuka cara dengan sangat menarik yaitu dengan mengawali mengambil salah satu sample produk dari peserta. Produk yang digunakan adalah milik Pak Ghozali yaitu berupa sarung tangan dari kulit kambing. Pada mulanya para peserta diminta untuk memperkirakan harga dari produk tersebut menurut persepsi masing-masing peserta saat melihat produk sarung tangannya. Perkiraan harga muncul yaitu dari Rp. 30.000 sampai dengan Rp. 75.000. padahal menurut Pak Ghozali harga asli dari produknya dibandrol dengan harga Rp. 150.000
Kesimpulan dari permulaan dari menurut Pak Romi adalah itulah yang terjadi di pasar yaitu ada perbedaan persepsi antara penjual dan pembeli. Perkiraan harga yang dilontarkan para calon konsumen semata-mata karena calon konsumen belum mengetahui mengenai fungsi lain, bahan, dan lain-lain dari pdouk dan yang paling penting adalah belum adanya penawaran dari penjual kepada calon konsumen.
Sebuah penawaran yang baik memiliki tiga unsur, yaitu yang pertama visuall, kedua audio, dan yang terakhir adalah kinestetik. Dari ketiga unsur tersebut akan terbentuk tagline bagi sebuah produk yang menciptakan nilai tambah tersendiri. Respon-respon dari konsumen tentunya sangat diharapkan bagi para pelaku usaha, disini terdapat tiga pintu masuk respon, pertama produk, kedua usaha, dan yang ketiga adalah diri sendiri. Kembali lagi pada point penting mengenai unsur penawaran, ketiga pintu masuk respon tersebuty juga harus dikemas dengan ketiga unsur tersebut.
Hal yang tak kalah penting sebuah produk harus terus muncul supaya konsumen mengetahui produk telah dikelola dengan cara yang baik dan di perusahaan yang professional. Kemudian setelah tadi melalui visualisasi akan timbul audio yang akan membentuk branding.
Dari semua aspek-aspek di atas ada dua point yang merupakan jurus kreatif dan inovatif yaitu konteks dan konten. Dari keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan, konteks adalah lebih ke cara bagaimana mempromomsikan suatu produk, dengan komunikasi, IT, layanan yang diberikan, kemasan, dan lain sebagainya. Sedangkan pada konten merupakan isi dari produk tersebut tentang bagaimana produk itu diolah, apa saja bahannya, bagaimana pembuatannya, dan lain-lain.
Point penting lain yang disampaikan tempat yang strategis bukan lagi menjadi jaminan untuk sebuah produk laku, yang terpenting adalah mainkan tiga unsur tadi yaitu visual, audio, dan kinestetik dan peran konteks. Offline store adalah sarana pendukung bahwa kita memiliki sebuah usaha, hal yang penting adalah memudahkan konsumen mengetahui detail produk maka konsumen akan mencari tempat tersebut dan akan merasa nyaman.
Cara lain untuk membuat sebuah usaha lebih kreatif dan inovatif dapat melalui ATM BCAAH, yaitu Amati, Tiru, Modifikasi, Bisa, Cara, Apa saja, Asal, Halal. Menciptakan sebuah inovasi juga tidak selalu memerlukan biaya yang mahal bahkan bisa gratis tergantung bagaimana caranya.

Selain itu, ilmu membua kreatif dan inovatif dapat ditempuh dengan berbagai cara. Pertama, subtitusi atau mengganti. Kedua, combine (kombinasi). Ketiga, amplify (menguatkan). Keempat, minify (mengecilkan). Kelima, put to the other use (multifungsi). Keenam, eliminate (dibuang). Ketujuh, re-arrange (tata ulang).

Mengembangkan suatu produk untuk laku di pasaran bukanlah hal yang mudah tanpa suatu tips atau cara yang dapat digunakan. Dengan adanya pelatihan tersebut diharapkan para pelaku usaha menyerap berbagai ilmu yang diberikan untuk diterapkan pada produknya dengan harapan meningkatkan nilai jual produknya masing-masing.[]

Penulis: Dian Utami, Mahasiswa Magang UNY 2017.