Pertemuan ini kembali dihadiri dari ABDSI, ABIKRI, pelaku UMKM dan PLUT, Jumat (27/01) kemarin. Dalam pertemuan kali ini dibahas lebih lanjut realisasi Galeri PLUT dalam bisnis model kanvas. Setelah detail membahas tentang customer segments, maka selanjutnya terkait value preposition yang mana kemarin masih garis besarnya saja. Pada value preposition akan dipertimbangkan dari khas Jogja yang meliputi tampilan fisiknya, Display, ada tempat untuk foto boat, kemasan yang memorable, dan ditambah dengan adanya musik gending Jogja.

rapat3

Selain itu terkait service atau pelayanan, meliputi sistem hibrid, orang ke orang, layanan logistik, informatif, tracebility, suasana memorable, dan lengkap berbasis jaringan. Kemudian dari sisi produknya, merupakan hasil dari praktik dampingan, produk murah cukup kualitas, pernak pernik Jogja, dan fungsional atau dekoratif.

Sebelum galeri siap dibuka, tentu perlu dibangun customer relationship. Bisa dalam bentuk buletin bulanan, dimana buletin tersebut nantinya dapat dikirim ke para tamu peserta studi banding yang pernah mengunjungi galeri. Peserta tersebut baik dari lembaga pemerintah maupun dari kalangan akademisi. Harapannya setelah buletin bulanna tersebut dikirimkan kepada peserta yang pernah mengunjungi galeri akan menimblkan kesan rindu berkunjung ke galeri. Dalam buletin yang diangkat adalah mengenai spesial event dan berita terkini tentang bisnis.

rapat9

Galeri ini dibangun dengan mendisplay produk yang khas Jogja dan tidak dijual ditempat lain. Selain itu produk tersebut juga merupakan produk yang dibutuhkan oleh para buyer. Sehingga mengenai key activities harus seminimal mungkin, dengan cara mengelola dengan baik key partner nya.

Sementara itu menurut peserta lain dari UMKM yang bergerak dalam bidang aksesoris Euis mengatakan bahwa peserta kunjungan ke galeri PLUT itu nantinya untuk kegiatan belajar seperti oleh para akademisi. Sehingga mereka dapat belajar membuat produk di galeri dan adanya workshop untuk memberikan teori. Sehingga nanti pengunjung setelah mendapatkan teori dapat langsung mempraktekannya. Untuk itu perlu disediakan tempat khusus pelatihan pembuatan produk. Dengan demikian diharapkan setelah itu, para pengunjung dapat membeli produk yang telah mereka pelajari dan juga produk khas Jogja banget dan barang tersebut juga fungsional.

Amir Pansuri menganalogikan dengan pernyataan “Barang tidak laku hanya akibat dari banyak sebab”. Jadi, sebelum kita memulaimaka harus ditentukan terlebih dahulu kebutuhan pasar itu apa. Untuk menjaga loyalitas pengrajin dilakukan dengan cara memberitahukan kkepada pengrajin UMKM bahwa produk mereka telah sampai pada konsumen. Harapannya pengrajin dengan semangat akan meningkatkan dari segi kualitas dan juga dikemas dengan baik.

Sagitaria Saputri/Mahasiswa Magang/Ekonomi Syariah/UIN Sunan Kalijaga