Mengelola Keuangan Usaha, Siapa Bilang Ribet?

(Seri; Melek Keuangan #1)

Oleh: Yuli Afriyandi, MSI

Kalau Anda merasa tidak sepakat dengan judul tulisan saya dan Anda mengatakan sebaliknya, it’s ok…hehe.

Ya saya menyadari, kebanyakan orang, mengatur keuangan usaha itu akan berfikir tentang akuntansi yang ribet dan memusingkan kepala. Dan Ia akan berada pada situasi ‘kalah sebelum berperang’ olehkarena mental blocknya yang mengatakan ‘ngapain pusing-pusing harus membuat arus kas, ada buku persediaan, ada buku penjualan dan lain sebagainya’.

Pada situasi demikian, saya hanya mengatakan bahwa Anda tidak akan mencapai kesuksesan dalam bisnis. Karena mental block Anda yang dominan dan Anda tidak mempunyai kemampuan gigih meng-unlock mental block yang ada pada diri Anda. Dalam tulisan ini tentu saya tidak akan berbicara jauh tentang mental block itu apa dan bagaimana kiat-kiat melepaskannya karena ini bukan training NLP hehehe…

Saya hanya meminta pada Anda minimal yakin bahwa mengatur keuangan usaha itu penting dan pembukuan usaha itu tidak ribet!, itu saja. Yuk mari kita lanjutkan…..

Tips sederhana dan sudah banyak orang lain lakukan dalam mengatur keuangan usaha adalah memisahkan uang bisnis dan uang pribadi, inilah kunci utamanya.

Anda harus sadari bahwa kebanyakan bisnis runtuh olehkarena tidak melakukan pemisahan uang. Tidak jelas mana uang untuk bisnis dan mana uang untuk keperluan pribadi.

Dalam sebuah cerita,….Pada suatu hari ‘Si Bapak dengan santainya mengambil uang lembaran sepuluh ribu dari laci uang toko, trus menyuruh si Anak untuk membeli beberapa bungkus rokok’. Lalu menjelang siang, si Ibu juga ikut mengambil beberapa lembar uang untuk iuran arisan. Eh menjelang sore si Anak merengek minta jajan, dan si Bapak menyuruh si Anak mengambil uang dari laci. Tiba esok, Bapak bingung uang di laci toko kurang untuk kulakan persediaan barang. Akhirnya, Ia menelfon teman yang berprofesi sebagai marketing ‘bank titil’ untuk meminjam uang. Begitu seterusnya, keuntungan toko tidak jelas, biaya-biaya yang dikeluarkan juga tidak jelas, hingga akhirnya,…?

Anda mungkin akan bisa menebak kelanjutan cerita di atas.

Sekali lagi saya katakan, perjelas mana uang pribadi dan mana uang usaha. Pisahkan!!…Pisahkan!!..

Sederhananya begini, ambillah gaji dari hasil keuntungan usaha Anda untuk belanja keperluan pribadi Anda. Kecil tidak masalah, karena mungkin anda belum bisa menghasilkan keuntungan besar, iya kan?

Selanjutnya, ketika Anda sudah mulai terbiasa dengan pemisahan keuangan pribadi dan usaha, maka Anda mulai membuat pembukuan sederhana. Sekali lagi saya katakan sederhana, tidak ribet!!.

Baik, selanjutnya apa saja yang perlu dibukukan dalam mengelola keuangan usaha secara sederhana?

Mudah saja, tapi Anda harus berkomitmen terlebih dahulu untuk melakukannya. Anda setidaknya membuat buku seperti buku rekening / buku catatan terpisah yang mencatat tiap-tiap transaksi. Apa saja?

Pertama; Buku Arus Kas atau Buku Kas. Isinya apa? Catatan keluar masuk uang secara riil. Isinya hanya catatan uang keluar dan masuk saja dari transaksi apapun. Jangan lupa nilainya dan nilai akhir (saldo). Contoh;

Tanggal Nama Transaksi Masuk Keluar Saldo
22 /2/2015 Kas Awal di laci 700.000 700.000
22/2/2015 Jual beras 10 Kg 110.000 810.000

 

Kedua; Buku Persediaan Barang; catatan untuk setiap pertambahan barang masuk karena pembelian ke supplier yang kita lakukan dan berkurangnya barang karena laku terjual. Ini bisa kita buat sesederhana mungkin.

Ketiga; Buku pembelian dan penjualan. Catatan uang keluar karena pembelian barang yang kita lakukan. Nilai rupiahnya. Catat nilai rupiahnya setiap kita melakukan pembelian barang ke suplier. Catat juga uang masuk karena penjualan. Buku ini bisa juga menjadi ringkasan dari buku kas, tapi khusus pembelian dan penjualan saja. Kumpulkan data dari buku kas harian, masukkan ke buku ini. Dengan buku ini, kita bisa memantau berapa besar pembelian dan berapa besar penjualan (omzet), dan selisihnya langsung menjadi laba kotor sebelum dikurangi biaya-biaya.

Keempat; Buku hutang piutang. Karena catatan hutang mapun piutang itu penting dan wajib harus ada maka buku ini juga penting untuk kita buat. Biar kedepan tidak ada persoalan dalam hal ini.

Kelima; Buku biaya dan pendapatan lain. Buku ini dikhususkan untuk selain penjualan barang atau jasa kita. Misalnya biaya listrik, telepon, pengemis dll. Sedangkan pendapatan lain misalnya menjual kardus bekas, dll. Dengan demikian anda akan mengetahui data laba bersih.

Nah, cukup lima point di atas Anda sedikit akan lebih tertata dalam hal mengatur keuangan usaha. So, rumitkah?

Kalau anda masih mengatakan rumit, silahkan kontrak tenaga yang mampu dalam hal mengatur keuangan (tenaga akuntansi). Atau Anda silahkan datang ke kantor saya untuk mengikuti kelas ‘Manajemen Keuangan Sederhana’. 😀

Sampai jumpa pada tulisan berikutnya,…..