Foto bersama PLUT KUMKM DIY bersama WAROENG MANAJEMENYogyakarta. Rabu, 8 Oktober 2014, PLUT KUMKM DIY bersama Asosiasi Pengusaha Minuman dan Makanan Kabupaten Sleman (ASPIKA) mengadakan bincang bisnis. Kali ini bersama dengan Pak Jody Brotosuseno (Owner Waroeng Steak n Shake) dengan tema “Spiritual Company”.

 

Pak Jody Brotosuseno adalah Owner dari Waroeng Group dengan beberapa bisnis kuliner yang meliputi Waroes Steak n Shake, Bebaqaran, Bebek Goreng H Slamet, Feskul, dll. Cabangnya kini sudah ada 50 lebih yang tersebar diseluruh kota di Indonesia.

 

Pada awalnya, usaha Pak Jody didirikan di teras rumah kontrakan bersama istrinya Siti Hariyani (Aniek) di Jalan Cenderawasih no. 30 Yogyakarta. Sebelum mempunyai usaha sendiri, mereka berdua telah aktif membantu usaha ayah Jody yang memang telah lebih dulu berkecimpung di dunia bisnis restoran steak bernama Obonk Steak. Obonk Steak memiliki sasaran konsumen kelas menengah ke atas. Dari sinilah diceritakan bahwa Jody mempunyai ide untuk membuka tempat makan steak dengan sasaran konsumen dari kalangan menengah ke bawah.P Jody waktu berbagi

 

Kunci utama suksesnya bisnis kuliner menurut Pak Jody adalah dari kualitas Produk (makanan/minuman). Sementara mengenai lokasi, pelayanan/service, dll. itu adalah faktor pendukung. Produk kuliner yang memiliki rasa spesial akan tetap dicari orang meski lokasinya jauh, belinya harus antri, dan harganya mahal.

 

Dalam perkembangannya, Pak Jody kemudian menjelaskan bahwa dalam membangun usaha juga dibutuhkan unsur keagamaan supaya usaha yang dibagun semakin barokah. Kalau dulu pemisahan tegas (sekularisasi) antara praktik bisnis dan keagamaan, sekarang mulai digabung ketika para pebisnis mulai merasa kosong (batinnya). Bisnis dalam konsep keduniawian sangat kental dengan hitung-hitungan kekayaan/kapitalisme, keuntungan (klise), dan trend. Sedangkan spritual company mengharuskan niatan dalam berbisnis adalah untuk mencari ridho Allah SWT. Kegiatan usaha kemudian diorientasikan kepada akhirat, moralitas/kedamaian, nurani (sejati), serta kelangsungan usaha jangka panjang.

 

Ada penekanan penting ketika ingin membangun spiritual company. Ketika membangun bisnis biasa maka muncul kecenderungan memorosotkan sumber daya, mengabaikan generasi mendatang, despiritisasi personal, kepemimpinan egoistic, memicu stress, menonjolkan kepentingan diri sendiri, menyulut terorisme dan kerusuhan, serta menimbulkan ketakutan. Namun berbeda bila dibandingkan dengan Spiritual Company, yaitu dengan berbisnis tidak hanya memelihara dan memperbaharui sumber daya, tetapi juga melihat generasi mendatang sebagai stakeholder, mengilhami, servant leadership, mendatangkan kepuasan, menumbuhkan dedikasi, menanggulangi kesenjangan dan kemarahan, serta melahirkan harapan.

 

Demikianlah beberapa hal yang disampaikan langsung oleh Pak Jody. Membangun bisnis yang dibarengi dengan Spiritual Company semoga usaha kita semua semakin sukses dan barokah, amin.Makan Bersama PLUT KUMKM DIY dan ASPIKA