Yogyakarta. Sejak tahun 1996, warga Padukuhan Kepek, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul sudah dikenal sebagai pengrajin produk olahan akar wangi. Pada tahun 1999/2000, berbagai macam model produk dari bahan akar wangi pun mulai dikembangkan. Produk-produk itu seperti macam-macam boneka, lampu hias dan lain sebagainya.

10547748_1466239896981776_5149827228166494665_oWaktu yang cukup relatif lama tersebut, para pengrajin sedikit banyak sudah menikmati berbagai macam pengalaman. Para pengrajin kerap juga ikut menjadi peserta dalam event-event expo produk umkm yang di inisiasi pemerintah. Dan sesekali di undang ke daerah lain untuk menjadi narasumber.

Namun demikian, pengembangan pasar, inovasi produk dan standarisasi produk masih juga menjadi kendala utama. Persoalan ini mengemuka ketika Konsultan PLUT DIY melakukan pendampingan pada selasa, 16 September 2014.

Akar wangi yang merupakan tumbuh-tumbuhan sejenis ilalang, merupakan tumbuhan yang cukup banyak dibudidayakan oleh para pengrajin di Padukuhan Kepek. Walaupun membutuhkan waktu 1 tahun untuk panen, para pengrajin tetap antusias membudidayakan tanaman tersebut. Sebetulnya, jika dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki tanah lebih gembur seperti di Garut, hanya membutuhkan waktu 8 bulan masa panen. Namun dari segi kualitas, akar wangi berasal dari Kepek jauh lebih wangi dibandingkan Garut dan daerah lainnya. Inilah yang menjadi satu keunggulan sekaligus berkah bagi para pengrajin Kepek.

10649562_1466221086983657_3284860694460115852_nPada kesempatan pendampingan tersebut, konsultan PLUT DIY mulai dengan sharing dan memotret permasalahan dasar dari para pengrajin. Metode analisis SWOT pun sudah dilakukan kepada peserta dalam acara pendampingan yang dihadiri sekitar 20-an pengrajin tersebut. Hingga rumusan-rumusan program tindak lanjut dirancang dan disepakati bersama antara pengrajin dan konsultan.

Dari rumusan-rumusan program kegiatan yang disepakati, salah satunya adalah para pengrajin sepakat untuk kembali membenahi struktur paguyuban agar kedepannya dapat lebih mudah mengatur standar harga supaya tidak ada persaingan antar sesama pengrajin.

Selain itu mereka juga bersepakat untuk mengakses dana kemitraan pada BUMN-BUMN setelah konsultan PLUT memberikan gambaran bahwa program10485391_1466239976981768_7968936652464860060_o-program BUMN memiliki akses permodalan berbunga rendah serta mempunyai program pembinaan. Dan berkaitan dengan pemasaran dan inovasi produk, para pengrajin sangat tertarik dengan pemasaran yang berbiaya murah dengan memanfaatkan teknologi internet serta ingin mendapatkan pelatihan yang lebih fokus berkaitan dengan inovasi produk.

Hari beranjak sore, konsultan mengakhiri pertemuan tersebut dengan beberapa simpulan yang menjadi titik tolak untuk kegiatan pendampingan selanjutnya. Dengan jarak tempuh hampir 2,5 jam dari Pedukuhan Kepek, konsultan bergegas kembali ke Yogya.