DI era digital seperti sekarang ini, penguasaan terhadap informasi merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Seseorang yang melek informasi akan dengan mudah merubah kondisi hidupnya. Bagaimanapun, kemudahan akses informasi dengan adanya internet sangat berimbas terhadap kondisi kehidupan masyarakat, mulai dari konteks sosial, budaya, dan ekonomi.
Di tengah karut marut kondisi negara ini, kemiskinan adalah salah satu problem serius yang harus diselesaikan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa kemiskinan bisa mendekatkan seseorang pada kekufuran. Benar saja, di negara yang kaya akan sumber daya alam ini, kemiskinan telah menjadikan pola pikir masyarakat lebih pragmatis. Beraneka ragam tindak amoral, kejahatan, perang saudara yang berujung pada pertumpahan darah pun sering kali terjadi. Ironis, itu lah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Pada Maret 2012, angka kemiskinan di Indonesia berada pada kisaran angka 11.96 persen atau 29.13 juta jiwa. Dalam hal ini, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk memberantas kemiskinan. Misalnya dengan adanya program IDT (Inpres Desa Tertinggal), beras untuk orang miskin (Raskin), subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan lain sebagainya. Meski demikian, semua usaha tersebut dirasa belum membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan, distribusi bantuan yang disediakan oleh pemerintah disinyalir tidak semua sampai pada masyarakat akar yang sungguh membutuhkannya.
Disadari atau tidak, pendidikan adalah satu-satunya cara yang paling mujarab untuk memberantas kemiskinan. Pendidikan di sini bisa diartikan sebagai penguasaan informasi, pengetahuan, dan teknologi yang memadahi. Pemaknaan pendidikan juga tidak hanya pada sebatas pada dinding dan atap sekolah saja. Pendidikan bisa didapatkan dari mana saja, salah satunya dengan membaca. Kegiatan membaca bisa menjadi solusi cerdas untuk mengedukasi diri secara mandiri dan berkelanjutan (long life education).
Membaca juga bisa menjadi alternatif untuk menggali potensi diri seseorang. Banyak tokoh besar yang lahir dan menemukan potensi dirinya melalui aktivitas membaca. Misalnya Thomas Alfa Edison yang telah mematenkan 1.300 lebih penemuan. Edison kecil hanya mengenyam pendidikan selama tiga tahun, selebihnya ia dapatkan dari kegiatan membaca. Salah satu buku yang mempengaruhi dirinya adalah Ikhtisar Filosofi Alamiah dan Eksperimental, buku tersebut telah mendorongnya untuk melakukan berbagai eksperimen. Selain itu juga masih banyak tokoh besar lainnya yang bisa merubah hidupnya karena membaca, J.K. Rowling dan yang lainnya.
Sayangnya, kegiatan membaca tentu membutuhkan bahan bacaan sebagai sumber informasi. Fenomena di lapangan masih menunjukkan bahwa informasi dan kapitalisme masih sulit dipisahkan. Kebebasan informasi seakan hanya milik kaum yang mempunyai materi saja. Hal ini bisa dilihat, salah satunya, melalui harga buku yang menjadi sumber informasi. Dewasa ini, harga buku berkisar antara 30 ribu hingga 100 ribu, sedangkan biaya untuk mengakses informasi melalui internet sekitar 5 ribu hingga 10 ribu per jam. Dari sini bisa kita lihat bahwa memang tidak murah untuk mendapatkan informasi.

Memberdayakan Perpustakaan
Tidak dapat dimungkiri bahwa kesenjangan informasi merupakan produk dari kemiskinan yang terjadi di masyarakat. Dalam konteks ini, perpustakaan bisa menjadi solusia bagi mahalnya informasi. Mengingat salah satu fungsi utama perpustakaan adalah sebagai pusat informasi, sudah sewajarnya pemerintah melalui Perpustakaan Nasional terus mendorong tumbuhnya perpustakaan dan fasilitas baca di masyarakat, jika perlu setiap tingkat RT minimal terdapat satu perpustakaan.
Hal ini memang bukan suatu yang mudah, terlebih selama ini imej perpustakaan di sebagian masyarakat masih dipandang negatif. Perpustakaan masih dipandang sebagai gudang buku dan tempat yang kurang menarik. Bagaimanapun, imej ini harus dibuang jauh. Pasalnya, sekarang ini sudah banyak perpustakaan yang berlomba-lomba mengembangkan berbagai jenis layanan demi menarik minat masyarakat.
Tidak hanya itu, perpustakaan sekarang ini juga sudah bergerak mengikuti perkembangan teknologi informasi dengan adanya perpustakaan digital. Dengan adanya perpustakaan digital ini menjadikan layanan perpustakaan lebih optimal dan akses informasi pun lebih mudah. Berbagai program pun telah di sediakan di beberapa perpustakaan, mulai kegiatan seminar kewirausahaan (entrepreneurship) dan beberapa kegiatan lain demi meningkatkan skill dan minat baca masyarakat.
Semoga dengan terus berkembangnya perpustakaan di Indonesia mampu mengatasi kesenjangan informasi di masyarakat, sehingga nantinya mampu turut serta dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia, tidak hanya kemiskinan informasi, tetapi juga kemiskinan materi. Semoga!