Tepat tanggal 12 Juli 2015, diperingati sebagai hari lahirnya Koperasi yang ke-68. Tidak ada gegap gempita, dan bahkan terkesan sunyi senyap.

Media tidak berpihak, sekali lagi saya katakan tidak berpihak!, olehkarena peringatan hari koperasi tidak menjadi headline news dan tidak ada pula liputan breaking news di media televisi.

Fenomena seperti ini terjadi sepanjang tahun. Rendahnya keberpihakan terhadap koperasi semakin menemukan titik nadir.

Lantas, apa yang salah?

Apakah pemerintahnya yang tidak menggembor-gemborkan tentang pentingnya peringatan hari koperasi?

Atau masyarakatnya yang sudah tidak mendapat manfaat dari lembaga koperasi?

Atau idelogi sistem ekonomi koperasi yang sudah mengeropos?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian patut kita renungkan bersama. Bahwa sesungguhnya koperasi adalah semangat gerakan, dan menjadi bagian dari saksi sejarah lahirnya bangsa. Karena koperasi dibawa dan dibangkitkan oleh seorang tokoh pendiri bangsa Bung Hatta.

Tidak ada alasan bagi semua pihak termasuk pemerintah untuk abai dan lalai menggelorakan semangat koperasi.

Semangat koperasi adalah sebuah gerakan revolusi, khususnya revolusi dalam bidang sistem ekonomi bangsa yang berpihak pada semua tatanan kehidupan masyarakat. Melawan prinsip atau ideology ekonomi kapitalis yang telah menggeser derajat persamaan yang kemudian akan menumbangkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kebersamaan dan seterusnya.

Koperasi lahir sebagai wadah perekonomian rakyat, berwatak sosial yang di nilai mampu sebagai alat pendemokrasian ekonomi, sehingga harapan besarnya adalah sanggup menjadi penyangga perekonomian nasional.

Sekali lagi, koperasi adalah wadah ekonomi rakyat, wadah perjuangan bagi kelompok usaha seperti petani, nelayan, tukang becak, pedagang kaki lima dan sebagainya, yang kepentingan-kepentingan ekonominya seperti pangan, sandang, papan dan kebutuhan-kebutuhan keluarga lainnya yang selalu dapat lebih mudah dibantu atau diperjuangakan melalui koperasi.

Karena itu, ketika koperasi diabaikan, prinsip dan nilai luhurnya dicampakkan, adalah merupakan tanda bahwa keberpihakan terhadap ekonomi rakyat mulai hilang. Sebagai gantinya, keberpihakan terhadap ekonomi kaum kapital mulai dimuluskan. Terbukti dengan mudahnya korporat-korporat berdiri tegak dan berjaya di bumi nusantara ini.

Inilah tanda-tanda, sebuah fenomena, sebuah gambaran bahwa koperasi hanyalah nama, koperasi tidak lebih hanya sebagai institusi keuangan non formal yang tetap kerdil. Koperasi tidak lagi sebagai sebuah semangat gerakan yang menggerakkan.

Mengucapkan Selamat Hari Koperasi di tengah pengkerdilan Koperasi, disitulah seharusny kita bersedih!