Peringatan Hari Koperasi yang dilaksanakan setiap 12 Juli selalu terkesan hambar dan minim pemaknaan. Tradisi tahunan ini kadang juga hanya kerap sebatas perayaan semacam ritual namun tidak ada tindakan nyata yang dapat menggerakkan koperasi dari ancaman mati suri secara kolektif. Lihat saja, ternyata masih banyak koperasi yang mati suri (tidak aktif). Dari data koperasi pada Juni 2014 tercatat berjumlah 206.288. Sebanyak 14.839 koperasi aktif (60 persen) dan sisanya 61.449 tidak aktif (40 persen). (Sumber: Bisnis.com 30/11/2014). Bahkan kita juga dihadapkan pada merosotnya perkembangan koperasi dan lunturnya nilai sistem ekonomi koperasi. Bahkan ada indikasi penyimpangan asas kekeluargaan yang sejatinya ruh koperasi itu sendiri menjadi asas keluarga (family system). Yang seharusnya koperasi bertujuan untuk membela kepentingan bersama, bukan membela kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Bahkan, lambannya perkembangan koperasi itu juga disebabkan karena senantiasa dipakai sebagai alat politik (policy tool) untuk mencapai tujuan kebijaksanaan pemerintah, bukan sebagai alat atau wahana perjuangan ekonomi anggota-anggotanya. Olehkarena itu, sering kita mendengar desakan dari masyarakat yang menginginkan menteri koperasi berasal dari non partai.

Lambannya perkembangan koperasi juga dibuktikan dengan minimnya prestasi koperasi di kancah internasional. Jika dibandingkan dengan Negara tetangga seperti Singapura, yang hanya berpenduduk 4,5 juta orang, pada 2007 menyumbangkan dua jenis koperasi kelas dunia, yaitu Koperasi Retail/Konsumen dan Koperasi Asuransi.
Meskipun tidak termasuk dalam daftar koperasi kelas dunia, Malaysia mempunyai lima koperasi yang termasuk dalam 300 daftar koperasi berprestasi di negara-negara sedang berkembang (ICA Developing 300 Project, 2007). Sementara koperasi Indonesia pada saat itu tidak satu pun masuk daftar Developing 300 Project, apalagi dalam daftar 300 Global List?

Namun seiring perjalanan waktu pemerintah agak sedikit bergembira karena pada tahun 2013 pemerintah dengan bangga mengumumkan Kopkar Semen Gresik menembus 300 besar koperasi terbaik dunia berdasarkan International Cooperative Alliance (ICA). Inilah prestasi yang diklaim pemerintah sebagai prestasi yang membanggakan.
Lantas apakah cukup sampai disini? Saya kira ada permasalahan krusial lainnya yang patut kita soroti bersama.

Bukan hanya minimnya prestasi koperasi nasional, yang juga patut kita soroti adalah belum mampunya koperasi menjadi saka guru perekonomian nasional. Karena apa? Hal ini disebabkan sistem ekonomi kita yang belum berpihak pada koperasi. Apabila sistem ekonomi kita saat ini berpihak, tentu akan memberikan peluang pada koperasi untuk berperan.

Saat ini kita sungguh miris melihat tercampur-aduknya sistem ekonomi kita yang lebih berpihak pada sistem ekonomi kapitalisme perkoncoan. Koperasi dipaksa bersaing secara liberal (free fight liberalism) dengan usaha swasta besar yang bersekongkol dengan penguasa, dan tentu saja koperasi akan kalah dan tergusur. Dan ancaman terberat juga sebentar lagi akan dirasakan oleh koperasi yakni dengan dibukanya kran pasar bebas ASEAN dalam kesepakatan ASEAN Economic Community (AEC).

Keadaan inilah yang kemudian patut kita pertanyakan kepada pemerintah, bagaimana komitmen mereka terhadap perkembangan koperasi? Karena sudah semakin nyata bahwa ada indikasi penggerusan nilai dan prinsip sistem ekonomi koperasi terbukti dengan kebijakan-kebijakan perekonomian yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar koperasi itu sendiri.

Rindu Bung Hatta
Dari banyak persoalan koperasi yang harus dibenahi, kita merindukan sosok Bapak Koperasi yang juga termasuk founding father bangsa ini. Rasa rindu yang muncul pada momentum peringatan hari koperasi pada 12 juli ini wajar, karena minimnya penerus Bung Hatta – Bung Hatta baru. Bahkan saat ini kita juga belum melihat kiprah Menteri Koperasi yang baru yang menurut saya seyogyanya menjadi titisan Bung Hatta.
Bung hatta sosok yang dikenal sebagai bapak koperasi karena jasa dan kegigihan beliau memperjuangkan pemikiran ekonomi koperasi. Koperasi sebagai lembaga tradisional yang berasaskan kebersamaan (gotong royong) dan kemudian beliau tuangkan gagasan itu dalam pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi; “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

Kegigihan beliau dalam memperjuangkan koperasi sebagai sebuah lembaga yang bisa mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas, menjadi sistem yang lebih bersandar pada kerjasama atau cooperation (baca: koperasi). Beliau sangat menentang habis-habisan sistem ekonomi kaum kolonial yang kapitalistik itu serta melawan kegiatan eksploitatif. Demikianlah sosok Mohammad Hatta atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bung Hatta.

Adalah suatu kewajiban pada momentum peringatan hari koperasi ini kita kembali menggelorakan apa yang menjadi semangat dan perjuangan Bung Hatta. Memperjuangkan kembali koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat. Wadah perjuangan bagi kelompok usaha seperti petani, nelayan, tukang becak, pedagang kaki lima dan sebagainya, yang kepentingan-kepentingan ekonominya seperti pangan, sandang, papan dan kebutuhan-kebutuhan keluarga lainnya yang selalu dapat lebih mudah dibantu atau diperjuangkan melalui koperasi.

Inilah harapan dari sekian banyak harapan-harapan lainnya terhadap perkembangan koperasi di Negara kita ini. Kita selalu merindukan sosok yang tidak hanya penginspirasi tapi juga penggerak bagi laju perkembangan koperasi. Dan harapan itu utamanya tertumpu pada pemerintah. Dan kita tentu masih menunggu keberpihak pemerintah secara nyata terhadap sistem ekonomi koperasi. Keberpihakan yang benar-benar berpihak, bukan keberpihakan yang politis apalagi keberpihakan yang hanya pencitraan.

Dengan momentum hari lahirnya koperasi, seharusnya kita juga senantiasa mendoakan bapak bangsa, bapak koperasi kita diberikan kelapangan di alam sana. Dan semoga akan segera muncul titisan – titisan bung Hatta baru sebagai penggerak, pejuang yang menjaga nilai dan prinsip luhur ekonomi koperasi. Semoga