Oleh: Imam Syafi’i

Branding saat ini menjadi kata ampuh di dunia usaha. Menjadi pendongkrak yang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan calon konsumen terhadap suatu produk yang muara ahirnya adalah meningkatkan nilai penjualan produk tersebut. Branding, di sisi lain diharapkan mampu memberikan nilai tawar lebih dari suatu produk yang ujungnya meningkatkan laba dari sebuah usaha.

Pasar bebas memungkinkan setiap produk bersaing tanpa tedeng aling-aling lagi, apa lagi di ahir tahun ini masyarakat ekonomi Asean di berlakukan. Artinya arus orang maupun barang dari Negara anggota Asean tidak akan ada batasan lagi. Semua bebas keluar masuk seperti halnya kita pindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Satu provinsi ke provinsi lainnya. Semua bebas keluar masuk, tidak adalagi palang pintu yang menghalangi lagi.

Kabar baiknya, dengan diberlakukannya MEA itu artinya arus barang dalam perdagangan pun tiada batasan lagi. Barang dari negera tetangga bebas masuk ke Indonesia, pun bisa jadi sebaliknya. Kabar buruknya adalah sudahkah produk UKM mampu bersaing dengan produk-produk dari Negara sesama Asean? Parahnya lagi, bukan hanya Asean, produk-produk UKM juga akan langsung bentrok langsung dengan produk dari Cina yang nota bane sangat murah dengan telah diberlakukannya AFTA. Bukan peimis, namun pastinya produk kita banyak yang harus di perbaiki.

Konyol namanya kalau kita sebagai pelaku usaha mau bentrok secara langsung dengan produk dari Negara tetangga terutama Cina. Akan dipukul dengan telak seandainya kita ngeyel bentrok langsung di pasar dengan produk-produk tersebut. Bermain di harga murah bukan pilihan yang tepat bagi produk-produk UKM kita. Mau dijual semurah apa pun produk UKM kita masih akan tetap kalah dengan produk-produk dari Cina. Biaya produksi produk UKM tak akan tercover jika bermain di harga rendah.

Lantas bagaimana cara mensiasati biar produk UKM kita mampu bersaing dengan produk Negara lain? Jawabannya, kalau saja dijual murah produk kita tidak akan mampu bersaing dengan produk Negara tetangga, maka satu-satunya langkah adalah jual mahal. Maksudnya, pilih strategi pemasaran produk dengan menjual di atas harga produk-produk murah. Lah tadi dibilang, kalau murah saja tetap tidak akan mampu bersaing kok sekarang mau dijual lebih mahal? Gimana caranya? Siapa yang mau membeli?