Setelah kasus Florence dengan status kontroversialnya di path, jagat dunia maya kembali di buat heboh oleh seseorang yang mengunggah tarif makan super mahal di salah satu tempat makan di pantai anyer. ‘Makan biasa, harga lebay’, kalimat inilah judul dari tulisan yang banyak mendapat komentar dan menjadi sorotan media nasional.

Kejadian ini tentu tidak kita nilai dari sisi kehebohannya, karena jagat dunia maya dewasa ini memang sudah kita anggap menjadi replikasi dunia yang sesungguhnya, bahkan kecepatan akses informasi di dunia maya justru mengalahkan kehidupan di dunia nyata.

Analisis saya dalam kasus ini akan saya mulai dari sebuah istilah yang sudah popular di tengah-tengah kita yakni ‘aji mumpung’.

Aji mumpung, merupakan sebuah perbuatan yang memanfaatkan momentum dari keadaan yang menguntungkan. Seperti dua sisi mata uang, aji mumpung mempunya sisi positif dan negatif.

Pada kasus seseorang yang mengunggah tariff makanan biasa harga lebay di pantai anyer tersebut tentu memunculkan stigma negatif yang tentunya berdampak negatif pula bagi kelangsungan pengusaha kuliner di sepanjang pantai tesebut.

Sebetulnya aji mumpung seperti ini cukup banyak kita temukan, terutama di area wisata tidak hanya penjual kuliner, fashion, aksesoris dan lain sebagainya juga melakukan hal yang sama. Penjual seakan tidak memikirkan jangka panjang bagi kelangsungan usahanya. Betul kiranya jika ada anggapan tidak semua yang berkunjung ke tempat wisata akan kembali lagi di lain waktu. Jadi momentum ini yang kemudian di manfaatkan oleh para penjual untuk me mark-up harga produk.

Namun anggapan ini tentu sangat salah besar. Dalam pembelajaran ilmu marketing dasar, kita kenal istilah rational marketing dimana diasumsikan manusia sebagai makhluk yg logis dimana mereka memilih produk berdasarkan hitung-hitungan manfaat fungsional. Salah satu strategi dalam bahasan itu adalah pemasar harus membangun sustainability bisnis.

Bayangkan, pada kasus ‘makanan biasa harga lebay’ itu tentu si pemilik usaha tidak memikirkan istilah rational marketing itu. Dengan jurus ‘aji mumpungnya’ tentu ia juga tidak berfikir sustainability bisnisnya. Bagaimana jika anda yang menjadi korban dalam kasus ini? Tentu anda tidak akan berfikiran untuk kembali lagi ketempat makan itu bukan? Inilah dampak buruk yang akan diterima bagi si pelaku usaha tersebut.

Ini hanyalah satu kasus dari banyak kasus yang sebetulnya sudah menjadi kebiasaan bagi banyak pengusaha di tengah-tengah kita.

Perlu edukasi dan pembelajaran konsep sustainability dalam bisnis. Karena, jika tidak demikian, maka para pelaku usaha kita dalam jangka panjang akan kehilangan pelanggan yang pada akhirnya berdampak buruk bagi kelangusngan usahanya.

Sustainability ini berhubungan dengan bagaimana setiap bisnis yang dibangun oleh para pelaku usaha bisa memiliki siklus hidup untuk jangka panjang. Apakah adanya di mindset atau dalam bisnis itu sendiri? Konsep sustainability adanya di dalam bisnis itu sendiri, meskipun berawal dari mindset si pelaku usaha tersebut.

Jika kita kembali pada pembahasan rational marketing seperti saya kutip di awal, maka si pelaku usaha tentu harus faham betul siapa yang akan menjadi target konsumen atau siapa yang menjadi konsumen dari produk yang ia jual. Tentu ketika hal ini sudah diketahui maka pelaku usaha tidak hanya menginginkan konsumen sebagai pembeli tapi juga menjadi pelanggan. Dan istilah aji mumpung tidak dimanfaatkan untuk memark-up harga yang tidak wajar, akantetapi justru dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bukan?